Sebelum Jalan, Pastikan yang Bicara Bukan Asumsi
Banyak keputusan besar lahir dari dua hal yang kelihatannya sederhana: jawaban orang dan perhitungan kelayakan. Tapi justru di dua titik inilah banyak rencana gagal diam-diam. Bukan karena idenya buruk, tapi karena data awalnya rapuh.
Di satu sisi, organisasi butuh memahami apa yang sebenarnya
dipikirkan pasar, publik, atau stakeholder. Di sisi lain, mereka juga harus
memastikan apakah sebuah rencana benar-benar masuk akal untuk dijalankan.
Masalahnya, keduanya sering dilakukan setengah-setengah.
Survei dilakukan, tapi respondennya asal. Studi kelayakan
disusun, tapi berbasis asumsi optimistis. Akhirnya, keputusan diambil dengan
rasa percaya diri yang tinggi—padahal fondasinya keropos.
Dalam praktik profesional, kualitas data selalu lebih
penting daripada jumlah data. Itulah kenapa jasa sebar kuesioner menjadi
krusial, terutama ketika hasil survei akan dijadikan dasar strategi, investasi,
atau kebijakan. Responden yang tepat bukan sekadar mau menjawab, tapi relevan
dengan tujuan riset.
Sering terjadi, survei terlihat sukses karena jumlah
respondennya ratusan atau ribuan. Namun ketika dianalisis lebih dalam,
profilnya tidak sesuai target. Usia meleset, latar belakang tidak relevan, atau
bahkan menjawab asal cepat. Data seperti ini terlihat “hidup”, tapi sebenarnya
menyesatkan.
Responden yang terkurasi dengan baik membantu riset
berbicara jujur. Mereka mewakili segmen yang memang ingin dipahami, sehingga
hasilnya bisa diterjemahkan menjadi insight, bukan sekadar grafik presentasi.
Di titik ini, survei berubah dari formalitas menjadi alat pengambilan
keputusan.
Namun data persepsi saja tidak cukup. Setelah tahu apa yang
diinginkan pasar, pertanyaan berikutnya lebih berat: apakah rencana ini
layak dijalankan? Di sinilah jasa studi kelayakan mengambil
peran strategis.
Studi kelayakan bekerja dengan logika yang lebih dingin.
Bukan hanya melihat peluang, tapi juga membedah risiko. Pasarnya ada, tapi
apakah cukup besar? Proyeksi keuntungannya menarik, tapi seberapa sensitif
terhadap perubahan biaya? Secara hukum aman, tapi bagaimana tantangan
operasionalnya?
Pendekatan yang matang tidak hanya menyusun laporan, tapi
menguji skenario. Apa yang terjadi kalau target meleset? Kalau kompetitor masuk
lebih agresif? Kalau daya beli turun? Studi kelayakan yang baik tidak berusaha
meyakinkan, tapi membantu pengambil keputusan melihat realita secara utuh.
Menariknya, responden survei dan studi kelayakan saling
melengkapi. Data lapangan dari survei memberi gambaran nyata tentang perilaku
dan preferensi. Analisis kelayakan memastikan gambaran itu bisa diterjemahkan
menjadi bisnis atau program yang berkelanjutan. Tanpa survei yang kuat, studi
kelayakan kehilangan konteks. Tanpa studi kelayakan, hasil survei kehilangan
arah.
Di era kompetisi ketat dan sumber daya terbatas, keputusan
berbasis feeling semakin mahal biayanya. Organisasi yang bertahan bukan yang
paling nekat, tapi yang paling disiplin menguji rencana sebelum dijalankan.
Pada akhirnya, keputusan besar seharusnya tidak lahir dari
keyakinan semata, tapi dari kombinasi data yang tepat dan analisis yang jujur.
Karena yang paling berbahaya bukan keputusan yang salah—melainkan keputusan
yang salah tapi terasa benar sejak awal.